Kesan dan Komentar terhadap Buku Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda

Ulasan singkat mengenai buku Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda karya Reggie Baay ini kami buat untuk menyelesaikan tugas pelajaran Bahasa Indonesia yang diberikan guru kelas XII kami. Berikut ulasan yang kami, kelompok tiga, telah tulis.



Identitas Buku

Judul Buku: Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda.

Penulis: Reggie Baay.

Penerjemah: Siti Hertini Adiwoso

Jumlah Halaman: xx + 316 halaman.

Penerbit: Komunitas Bambu.

Tahun Terbit: 2017.


Blurb

Istri simpanan atau gundik adalah masalah klasik yang sudah lazim di Nusantara. Buku ini mengungkap masalah cinta jalur-belakang tersebut di masa penjajahan Belanda di Nusantara.
Untuk pertama kalinya diungkapkan sejarah mengenai nyai, perempuan Pribumi, Tionghoa, dan Jepang yang hidup bersama lelaki Eropa di masa Hindia-Belanda. Sepenggal kisah pemerasan ekonomi, perbudakan, dan bagaimana seorang ibu dipisahkan dengan berbagai cara dari anak kandungnya.
Di dalam buku ini terkuak sebuah sisi kelam dari penjajahan yang dilakukan Belanda selama hampir tiga setengah abad di Hindia-Belanda; hubungan pernyaian antara tuan putih (Belanda) dengan perempuan pribumi. Di dalam sistem masyarakat feodal pada saat itu, menjalani hubungan pernyaian diibaratkan memakan buah simalakama—baik bagi tuan putih maupun perempuan pribumi. Sebuah pilihan sulit yang menuntut konsekuensi berat dari kedua pihak.
Faktor pendukung, politik maupun intrik yang mendorong lahirnya hubungan tersebut pun diceritakan secara kronologis di dalam buku ini. Kehidupan, duka dan penderitaan perempuan pribumi yang terhimpit keadaan dan menjadi nyai bagi para tuan putih pun tergambar nyata di dalamnya.


Kesan dan Komentar


"Dalam Penantian terhadap calon istri Eropa yang sesuai, laki-laki Eropa pun 'memuaskan' diri bersama perempuan Pribumi muda. Hal semacam ini sangat sering terjadi pada masa kolonial. Menurut kebiasaan yang berlaku sang gundik dapat disuruh pergi kapanpun sang laki-laki menginginkannya – meskipun hubungan tersebut telah menghasilkan anak. Kondisi tersebut tidak bisa lepas dari nasib gundik Pribumi dalam masyarakat kolonial Hindia Belanda." (hlm. 1)

Karya yang ditulis oleh Reggie Baay ini mengangkat tema atau topik yang barangkali sering sekali dilupakan bahkan tidak diketahui seluk-beluknya oleh kebanyakan dari kita, yakni pergundikan. Pergundikan sendiri memiliki kata dasar “gundik” yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya istri tidak resmi, selir, maupun perempuaan piaraan.
Buku berjudul Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda ini mulai ditulis oleh Reggie Baay sejak dia mengetahui bahwa dirinya memiliki keterkaitan dengan pergundikan di Hindia Belanda pada zaman kolonial. Di bagian awal, diceritakannya pada pembaca bahwa dia adalah anak seorang blasteran Indonesia-Belanda. Ayah Reggie Baay sendiri hampir tidak pernah menceritakan tentang asal usul keluarganya, yakni kakek dan nenek Reggie. Reggie sendiri hanya tahu bahwa kakeknya adalah seorang keturunan Belanda dan neneknya adalah wanita Pribumi asal Jawa. Sebatas itu saja.
Cukup lama kemudian, setelah ayah Reggie wafat, sang penulis mengetahui bahwa di rumah mereka tersimpan bukti bahwa neneknya yang bernama Moeinah ada. Benda itu adalah suatu dokumen berupa akta pengakuan yang biasa dibuat pada zaman kolonial dulu. Mengetahui bahwa Moeinah adalah seorang nyai yang memiliki nasib kurang lebih sama dengan nyai-nyai lain di Hindia Belanda, Reggie pun termotivasi ingin mencari tahu lebih banyak tentang pergundikan di Hindia Belanda dan membagi pengetahuannya dengan masyarakat luas.
Buku ini ditulis dengan bahasa yang terkesan lumayan ilmiah dan banyak menggunakan istilah yang kurang dimengerti orang awam sehingga membacanya agak membosankan. Kalimat-kalimat yang digunakan terkadang membuat buku ini terasa berat untuk dibaca. Namun, Reggie Baay berhasil mengulas dengan detail mengenai awal mula pergundikan di Hindia Belanda sampai para nyai dan nasib mereka terkait hal tersebut. Buku ini mengingatkan kita akan kehidupan keras para wanita di Hindia Belanda pada zaman itu. Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda cocok untuk dibaca orang-orang yang menyukai sejarah, terutama sejarah mengenai kehidupan pada zaman kolonial.


Comments